Aku tetap disini
Di tempat yang sama
Tak pernah berlari
Aku tetap disini
Di tempat yang tak pernah kau lihat
yang tak pernah kau sadari
Bosan
Ya, aku bosan
Tapi sayang itu hanya logika
Dan hati tak ingin mengalah
cahayaku tak seindah cahaya bintang lainnya namun aku berharap cahaya kecilku mampu menerangi kegelapan yang kau rasa.
Translate
Kamis, Desember 4
Selasa, Desember 2
Part 1
Haii... sahabatku!
Lama tak berbagi denganmu. Buka tak ingin melainkan aku lama tak bisa membukamu. Untungnya aku tak bosan mencoba dan alhasil aku bisa membukamu kembali. #bahagianya. Kau tau kan? aku sangat sulit untuk bercerita pada orang lain mungkin sangat sulit untuk aku percaya. Aku memang memliki teman baik tapi apakah dia sudah tepat untuk dikatakan sahabat? entahlah. Aku hanya tak ingin berharap dan bergantung pada mereka meskipun tanpa aku sadari mungkin aku sudah bergatung.
Bdw, aku ingin menceritakan sesuatu yang menghantui pikiranku selama beberapa bulan terakhir. Bingung dari mana aku memulai cerita! Aku menyukai seseorang mungkin lebih dari sekedar rasa suka. Bagaimana bisa? kapan semua itu terjadi? Aku pun tidak tau jelasnya. Yang aku tau, saat pertama kali aku berjumpa, aku ingin dekat dengannya. Aku ingin menjadi temannya. Aku tidak sadar bahwa keinginanku hanyalah semu. Aku tau, dia cuek, pendiam bahkan dapat dikatakan dia memiliki dunia sendiri. Tapi terlepas dari itu semua aku merasa nyaman.
Kami satu rumah selama 43 hari dan selama itu tidak ada momentum dimana aku bisa berteman dengannya. Dia selalu bersikap kasar dan tak jarang dia membentakku dengan keras. Tidak jauh berbeda dengannya, aku melakukan hal yang sama. Jujur aku melakukan hal itu bukan karena aku membencinya. Aku hanya ingin menutupi perasaanku. Aku bingung ketika menghadapi sikapnya yang keras. Sehingga aku tampak seperti musuh baginya. Pernah suatu hari kami jalan keluar, saat itu hujan turun. Aku pinjamkan jaketku dan saat itu aku bahagia paling tidak bisa melakukan hal yg tulus padanya sekalipun dia tidak menyadari itu.
Dia perokok. Bisa dikatakan penggila rokok. 1 bungkus mungkin bisa dihabiskan dalam waktu satu jam atau bahkan tidak sampai. Dan aku melarangnya. Bukan dia balas dengan baik justru malah aku dianggap mengatur hidupnya. Seharusnya dia sadar bahwa aku melarangnya karena aku peduli. Dan satu hal yg harusnya dia tau, aku tidak pernah melarang siapapun merokok kecuali orang itu penting bagiku. Karena aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Ya... mungkin aku berlebihan! toh aku bukan siapa-siapa baginya.
Sahabatku, aku tidak percaya pada cinta. Dan aku tidak tau apakah saat ini aku jatuh cinta sehingga memikirkanya saja aku meneteskan air mata. Setiap hal yang berhubungan dengannya sangat sulit aku lupakan. Aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku sangat merindukannya. Sahatbatku, Kau tau kan? Aku ini memiliki prinsip yang teguh. Aku tidak peduli orang mengatakan aku ini keras, egois, besar gengsi. Tapi aku meruntuhkan itu semua demi dia. Aku rela menghubungi dia duluan, bahkan aku mengajaknya untuk bertemu dengan alasan butuh bantuan. Sayangnya dia menolak. Bodoh banget kan??? Sudah menurunkan harga diri dengan susah payah, malah diabaikan.
BENCI. Ya, seharusnya aku benci setelah apa yang aku terima darinya. Tapi apalah dayaku, tak sedikitpun aku benci sekalipun terselip kekecewaan dihatiku. Inginku hanya berjumpa dengannya dan melihat mata tajamnya. Apakah aku bisa bertemu dengannya?????
Sahabatku, sudah pukul 2 malam. Saatnya aku tidur, nanti kita sambung kembali.
Minggu, Januari 5
GELANG
Hujan lagi, hujan lagi. Untuk
sebagian orang mungkin hujan adalah kejadian alam yang biasa saja. Tapi tidak
denganku. Aku sependapat sama mereka yang menyukai hujan dengan berbagai
alasan. Hujan adalah sahabat dan selamanya akan tetap menjadi sahabat dalam
hidupku. Aku tak peduli dengan air yang membasahi tubuhku, bila memang hujan
turun saat aku di jalanan. Seperti kata orang dewasa dulu “hujan adalah
berkah”.
Aku menatap rintikan hujan dari
jendela kamar. Sesekali aku melihat awan yang mulai menghitam. Entah mengapa,
aku merasa ingin berjalan keluar. Ku nikmati rintikan hujan hingga tersadar aku
menemukan sesuatu yang tak asing.
“Kay..” tiba-tiba suara orang
memecahkan lamunanku atas benda yang baru saja ku temukan. Suara itu tak lain
datang dari sahabatku Rida. “Ngapain lo bengong disini? Mana hujan lagi”
sambungnya. Kemudian menarik tanganku berjalan masuk. Aku memberikan benda yang
sedari tadi ku pegang saat kami sudah mengambil tempat yang nyaman untuk
berbincang. Rida terdiam melihat benda itu. Mungkin pikirannya sama dengan
pikiranku ketika pertama melihat benda itu.
Setelah beberapa saat kami terdiam,
akhirnya air mata yang mungkin dari tadi tertahan, perlahan jatuh di pipi. Rida
memelukku. 1 menit, 2 menit, 5 menit,... entah berapa menit waktu dibiarkan
Rida berlalu untuk aku menangis. “Kok bisa?” kalimat pertama Rida setelah
melihatku menghapus air mata.
Dengan kekuatan yang tersisa aku
mencoba berbicara tanpa harus mengeluarkan air mata. “Intinya gue juga
penasaran Rid, kenapa bisa ada disini? Mungkinkah ada orang lain yang
memilikinya?” jelasku.
“Setahu gue cuma elo dan dia yang
punya. Ini asli kok desainnya” jawab Rida.
“Sekarang jawaban yang benar adalah,
dibuang karena tidak memiliki arti sama sekali di matanya. Atau mingkin sudah dikasih
sama orang lain, terus dibuang deh sama tu orang” ujarku penuh keyakinan.
Melihat dari sorot mata Rida, ia tak
percaya. Maklum Rida memang menganal baik aku dan dia. Bisa di bilang Rida
adalah saksi hubungan yang harmonis yang kemudian hancur dengan sekejab. “Ya
udahlah. Sekarang mendingan elo simpen. Terus kita mandi and cabut. Bukankah
niat kita kesini buat liburan?” kata Rida mengajakku kembali ke kamar hotel.
Baru beberapa langkah, aku medengar
pertengkaran hebat di lorong dekat lobi. Hal membuat aku harus berhenti dan
KEPO ketika diantara suara itu ada yang menyebut benda yang mungkin adalah
benda yang kami perbincangkan barusan. “Itu menurut elo. Enggak buat gue. Asal
lo tahu, gelang itu sangat berarti buat gue”. Jelas kata itu terdengar. Aku
menarik tangan Rida untuk lebih mendekat ke arah sumber suara.
“Kenapa sih?” tanya Rida
kebingungan.
Aku hanya diam dan pokus mendengar.
Untungnya Rida mengerti dan ikut menguping. Tanpa seizinku, Rida mengambil
benda yang ada di tanganku dan berjalan mendekati kedua orang tersebut. “Apa
ini yang kalian maksud?” tanya Rida tanpa basa-basi.
Mereka
menatap benda yang ditunjukkan Rida. Tanpa ragu, gadis itu merebutnya dari
tangan Rida. “Iya bener. Makasih ya” ujarnya kemudian meninggalkan Rida dan
entah siapa cowok itu.
“Maaf,
dia memang seperti itu” ujar itu cowok kepada Rida. “sekali lagi makasih ya”
sambungnya.
“Sorry,
kalo boleh tau kok bisa itu gelang milik dia?” tanya Rida tanpa ragu.
Cowok
itu mengangkat kedua bahunya dan menggelangkan kepala.
Entah
dari mana keberanian, aku mendekati cowok itu dan “gue mohon, cari tahu kenapa
gelang itu ada di dia?”
Aku
melihat tatapan kebingungan dari itu cowok. Dan pada akhirnya menganggukan
kepala.
*****
Kejadian tadi sore membuatku terus
terbayang sosok yang selama ini ku coba lupakan. Aku menatap langit malam,
berharap ada sesuatu yang bisa aku temukan.
“Kay..” suara Rida kembali memcahkan
lamunanku. Rida merangkulku, kemudian mengikutiku menatap langit. “Tadinya gue
pikir liburan kali ini bisa buat lo bahagia. Tapi ternyata lo malah kayak gini”
kata Rida membuka pembicaraan.
“Gak papa kok Rid. Lagian ini bukan salah lo.
Sebagai seorang sahabat, lo sudah melakukan banyak hal baik buat gue. Gue tetep
seneng kok. Kan geratis” jawabku membuat kami tersenyum.
“Ya udah. Masuk yuk! udah malem.
Entar lo masuk angin lagi”
Aku melihat Rida sudah tertidur
pulas. Sedangkan mataku tetap tak ingin pejam. Aku berjalan ke arah tas ransel
yang ada di samping meja rias. Ku ambil notes kecil bergambar bintang.
Entah mengapa semua
terjadi diantara kita
Kita bertemu tanpa di
duga
Berjalan melewati
setiap cerita
Dan kemudian
menciptakan satu cerita
Kau jadi malaikat tanpa
sayap
Kau temani setiap
hariku dengan penuh canda tawa
Tahukah kau?
Kau itu udara bagiku
Kau itu nafasku
Namun kini aku tak tahu
kau dimana,
Dengan siapa?
Sedang apa?
Bahkan aku tak tahu
berapa kali namumu melintasi pikiranku
Berapa banyak air
mataku yang jatuh hanya untukmu
Setelah kau melangkah
pergi,
Pernahkah kau berpikir
tentangku
Atau sekali saja hingga
hari ini, pernahkah namaku melintasi pikiranmu?
Sungguh ak meridukanmu
Merindukan setiap jejak
tentangmu.
Tulisan apa yang telah tercipta barusan.
Mungkin tak ada arti, namun ini membuatku sedikit tenang hingga mata yang tak
ingin pejam memulai untuk terpejam.
*****
Cahaya mentari menyilaukanku.
Tersadar bahwa aku tertidur di bangku meja rias. Aku melihat ke arah ranjang,
namun sudah rapi tanpa Rida. Aku berjalan ke kamar mandi...
Setelah merasa segar dan nyaman
dengan kaos oblong dan jeans, aku berjalan ke luar. Mataku tertuju pada dua
orang yang asik ngobrol. Aku berjalan mendekati mereka. “Sudah bangun lo?”
tanya Rida ketika aku duduk di antara mereka. Jelasku pandang bahwa di
sampingku adalah cowok kemarin.
“Yupz” ujarku kumudian menyerobot
gelas teh Rida di meja.
Untuk beberapa saat mereka terdiam
menatapku yang asik menikmati teh dan snack milik Rida. “Kenapa?” tanyaku pada
mereka setelah menguyah snack. “Apa ada yang aneh? Atau elo udah tau tentang
gelang itu?” sambungku tanpa basa-basi.
Rida menganggukan kepala kemudian
memberi kode pada tu cowok untuk kembali bercerita. Dengan serius aku mendengar
setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Sampai akhirnya aku kembali
meneteskan air mata. Tanpa peduli dengan
mereka aku berlari keluar.
Apa yang terjadi antara aku dan
alam? Entahlah... yang aku tahu saat ini hujan kembali turun membuat semua
orang tak perlu tahu bahwa air mataku bersama rintikan hujan menyatu. Aku ingin
menjerit sekuat mungkin. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Hingga tak bisa lagi
ku temukan jejak masa lalu yang menyedihkan.
Seberapa jauh jalan yang telah ku
lewati, hingga mentari yang indah perlahan pergi. Awan putih berganti kelam.
Deru ombak pantai semakin kuat terdengar. Burung-burung terbang bersama entah
kemana. Antara percaya dengan tidak aku temukan sosok itu kembali. Ia berjalan
mendekatiku dengan senyum yang sama. Senyum yang menemaniku cukup lama. Tubuh
yang kuat dan mempesona.
Tanpa ragu ia memelukku. Seolah
waktu kembali pada saat yang lalu. Dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca,
aku mulai berbicara.
“Aku
tak tahu siapa sebenarnya gadis itu? yang aku tahu gadis itu adalah orang yang
berarti untukmu. Hingga sampai kau benar-benar pergi dia tetap berada disisimu.”
Kata yang mengakhiri suaraku.
Dia
diam menatapku. dan menghapus air mata yang terjatuh di pipiku. Lalu dia
mengeluarkan benda yang sama dari sakunya. Ya, gelang milik kami berdua yang ia
desain sendiri sebagai kado spesial ulang tahunku, 2 tahun yang lalu. Dia buka
kelima jariku, dan diletakannya benda itu....
Apalagi
yang terjadi? Aku tak tahu.
“Kay,
lo udah sadar?” tanya Rida ketika aku membuka mata.
Aku
melihat sekitarku. Ini bukan pantai. Lalu... aku tak mengerti dengan apa yang
terjadi. Mengapa saat ini aku terbaring di rumah sakit.
“Kay,
lo gak papa kan?” Rida kembali bertanya dengan muka yang cemas.
“Apa
yang sebenarnya terjadi?” tanyaku tanpa peduli dengan keadaanku saat ini.
“Kita
nemuin lo pingsan di pantai. Untung aja lo gak terbawa arus ombak yang kuat.”
Katanya menghiburku. Aku tahu Rida selalu ingin membuatku tersenyum dan tertawa
dalam kondisi apapun. “Kalo lo terbawa omba, bisa habis gue sama ortu lo”
sambungnya lagi.
Aku
mencoba mengingat kejadian di pantai. “Iya. Tadi jelas aku bertemu dengannya.
Bahkan dia memelukku begitu erat. Tapi..” aku tidak melanjutkan perkataanku.
Sebab aku pun tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Rida
memelukku. “Gue harep setelah ini, lo bisa tersenyum dan bahagia” bisiknya di
telingaku. Rida melepas pelukkannya. Ia mengeluarkan amplop berwarna biru bergambar
bintang dari sakunya. “Gadis itu yang memberikannya untukmu. Wiandra
menitipkannya sebelum pergi” jelas Rida.
“Kenapa
baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu?” tanyaku setelah menerimanya.
“Itu
keinginan Wiandra. Wiandra menyuruhnya memberikan langsung padamu ketika mereka
di Swiss. Niatnya minggu depan setelah liburan. Tapi karena kita bertemu di
sini....” jelas Rida.
“Sekarang
mereka dimana?” tanyaku.
“Dia
sudah kembali ke Jakarta”
“Apa
lo tahu siapa dia?”
“Dia
adik satu-satunya Wiandra yang selama ini tinggal di Swiss. Dia tahu itu elo.
Makanya dia ninggalin kita, karena dia enggak bisa menatap lo saat itu. Di
kamar ia menangis merindukan abangnya Wiandra.
Jadi Alex, eggak seutuhnya cerita sama kita tadi pagi.” Rida mengelurkan
selembar foto Wiandra dengan seorang gadis. Di bawa foto tertulis WIANDRA &
WIANOVI. Mereka memang mirip. Hanya saja gadis itu masih telihat kecil tidak
seperti sekarang. CantiK, telihat lebih dewasa. “Dia enggak nyangka gelang ini
di temukan oleh orang yang memang pantas menemukannya” Rida memberikan gelang
itu padaku. “Ini milik elo dan dia. Jadi sudah sepantasnya lo nyimpen”...
*****
Liburan
yang tidak akan aku lupakan. Sebab liburan kali ini memberi tahuku bahwa aku
mencitaimu selalu. Tak peduli seberapa jauh kau pergi meninggalkanku. WIANDRA.
Ku buka amplop dari Rida.
Dear My Lovely
Bagaimana kabarmu saat ini? Aku harap kau baik-baik saja.
Sibuk apa kau sekarang? Aku harap kau sukses meraih
cita-citamu.
Apa kau sudah menemukan orang yang baik? Ku harap begitu.
Wahai kau cinta,
Aku tak berniat pergi darimu
Aku hanya tak ingin kau meneteskan air mata untuk seorang
seperti aku
Seperti yang kita tahu,
Kita bertemu tanpa di duga
Kita berbagi cerita hingga menjadi satu cerita
Hingga akhirnya kita harus berpisah
Wahai kau cinta,
Kau selalu merasa dirimu tak sempurna
Tak pantas aku cinta
Tak pantas aku jaga
Pernahkah kau berpikir? Bahwa kau anugrah terindah.
Tuhan tak memberikan apa yang kita inginkan melainkan apa
yang kita butuhkan, mungkin kau tak menginginkan aku begitu pula diriku saat
itu. tapi pernahkah kita berpikir bahwa kita ini membutuhkan satu sama lain.
Terbukti hingga saat ini. Karena kita saling mencintai.
Aku mencintaimu, tak peduli kekuranganmu
Aku mencintamu, tak peduli orang berkata ini itu
Dan Aku mencintaimu, tak peduli seberapa singkat waktuku
Karena bagiku KAU wanita terindah
Wanita terhebat setelah MAMA dan WIANOVI
Wahai kau cinta,
Terima kasih atas cintamu
Terima kasih atas kesabaranmu
Terima kasih atas ketulusanmu
Terima kasih atas WAKTUMU
Perpisahan terjadi bukan karena kau dan aku
Bukan karena Tuhan tak izinkan kita menyatu
Tapi karena perpisahan memang harus terjadi di setiap waktu
Percayalah cintaku, kau terbaik disisa waktu
Jaga dirimu untukku dan untukmu
Aku titipkan itu gelang padamu dan berikan pada orang yang
kau cintai dan mencintamu. Tak perlu dia tahu, cukup gelang itu menjadi saksi
kisah cinta yang Tuhan kirim untukmu sebagai kado terakhirku yang pernah
mencintamu.
Derai
air mataku seolah tak akan pernah berlalu. Kecewaku, sedihku, bahagiaku menjadi
satu. Kecewa karena aku tak berada disampingnnya ketika sakit. Sedih karena
waktu terlalu singkat dan bahagia karena aku tau dia mencintaiku setulus
hatinya. Aku cium gambarnya di handphonku, ku peluk gelang hadiah terindah
untukku.
“Selamat jalan cintaku
di duniamu yang baru...” bisiku dalam hati.
Terkadang
perpisahanlah yang memberi tahu kita arti cinta yang sebenarnya. Cinta memang
tak harus memiliki bila memang kita mencintai. Kerena cinta tak butuh alasan
untuk pamrih. Melainkan cinta hanya membutuhkan ketulusan untun bertahan,
menutupi, menjaga, dan membiarkannya tumbuh atau pun layu bersama waktu.
SELESAI....
Minggu, April 28
Bintang Malam: KAY BINTANG (satu)
Bintang Malam: KAY BINTANG (satu): Liburan yang sangat menyenangkan sekalipun jauh dari mall, bioskop dan kamar tercinta Kay. Viko sahabat Kay sejak kecil memang sudah lam...
CINTA YANG BUTA ATAU KAWANKU YANG DIBUTAKAN CINTA
Haii bintangku..
taukah kau? malam ini aku tertawa kecil. bukan karena dia yang ku suka menghiburku
atau sedang lagi nonton OVJ. hhaha
tapi aku tertawa saat membaca cerita tentang kawanku. tau gak sih, dia sekarang jadi pengagum rahasia, dia bilang dia pecundang.
sebenarnya kawanku itu kece # buang ingus arah kan mukanya :P. tapi cinta terkadang melumpuhkan logika. buat aku sih cinta terkdang bikin kita tidak percaya diri dan akhirnya menimbulakan ketidak syukuran pada sang maha Cinta. # tepuk jidat sambil berkata tumben bijak
singkat cerita sih kawanku gila karena Cinta
hhahaha
taukah kau? malam ini aku tertawa kecil. bukan karena dia yang ku suka menghiburku
atau sedang lagi nonton OVJ. hhaha
tapi aku tertawa saat membaca cerita tentang kawanku. tau gak sih, dia sekarang jadi pengagum rahasia, dia bilang dia pecundang.
sebenarnya kawanku itu kece # buang ingus arah kan mukanya :P. tapi cinta terkadang melumpuhkan logika. buat aku sih cinta terkdang bikin kita tidak percaya diri dan akhirnya menimbulakan ketidak syukuran pada sang maha Cinta. # tepuk jidat sambil berkata tumben bijak
singkat cerita sih kawanku gila karena Cinta
hhahaha
CINTA
Cinta, ketulusan
Rela memberi tanpa balasan
Rela berkorban meski sia-sia
Cinta, kesetiaan
Tak memandang jarak
Tak memandang waktu
Tak memandang yang lebih dari pada itu
Cinta, kejujuran
Terbuka
Apa adanya
Cinta, kepercayaan
Tak peduli orang berkata apa
Meyakini apa yang sudah ditentui
Cinta, Kasih sayang
Pengertian
Peduli
Melindungi
Mengayomi
Inilah CINTA
Tidak berpikir, siapa dia?
dan bagaimana dia?
kelebihannya menjadi penghargaan untuk dirinya
dan kekurangannya menjadi kelebihannya
karena cinta itu kemurnian yang Tuhan kasih dalam hati manusia
Rela memberi tanpa balasan
Rela berkorban meski sia-sia
Cinta, kesetiaan
Tak memandang jarak
Tak memandang waktu
Tak memandang yang lebih dari pada itu
Cinta, kejujuran
Terbuka
Apa adanya
Cinta, kepercayaan
Tak peduli orang berkata apa
Meyakini apa yang sudah ditentui
Cinta, Kasih sayang
Pengertian
Peduli
Melindungi
Mengayomi
Inilah CINTA
Tidak berpikir, siapa dia?
dan bagaimana dia?
kelebihannya menjadi penghargaan untuk dirinya
dan kekurangannya menjadi kelebihannya
karena cinta itu kemurnian yang Tuhan kasih dalam hati manusia
SYAIR TAK INDAH, SYAIR TANPA MAKNA
Aku tak pandai merangkai kata
semua hanya terlukis dalam diam
mungkin ini sebuah syair yang tak indah
namun selalu inginku coba
saat aku tenggelam dalam alunan musik malam
setetes kegetiranpun melanda
bernuansan kekecewaan akan sebuah kesetiaan
aku mencintai malam bukan karena Bintang yang selaluku banggakan
aku menyukai bintang bukan karena datang di saat kelam
aku tak punya alasan untuk itu semua
inilah aku yang diam
berlari dalam kata yang tak bermakna
sedikit harapan, kelak akan ada suka dalam syairku yang tak indah
inikah rasa kecewaku dalam setia
hingga tercipta syair tanpa makna
Jumat, Maret 29
SAYANG KAJUT, "THE WAY HOME"
Aku suka banget nonton film korea. Awalnya aku suka dari film "Andles love". Kalo gak salah aku SMP berlanjut Full House dan sampai saat ini.
Singkat cerita, sangking fanatiknya aku sama film korea, temen aku yang punya vidio di leptop aku COPAS (Copy Paste). Awalnya aku belum suka sama film The Way Home ini, tapi gak tau kenapa air mataku menetes. Rasanya mengingatkanku pada sosok kajut (nenek). Aku merindukan raut wajahnya, senyum manisnya, semangatnya.
Jalan film ini, diawali dari Sang Woo, anak
laki-laki berumur kira-kira 6 atau 7 tahun, yang hidup bersama ibunya. Setting pertama
dimulai di dalam bus, ketika itu Ibu Sang Woo ingin menitipkannya ke
nenek (dari ibu) yang bertempat tinggal di desa pelosok di pinggiran
Korea, dengan maksud supaya mempermudah ibunya mendapat pekerjaan. Sang
Woo dititipkan beberapa hari, dan akan dijemput jika ibunya sudah
mendapat pekerjaan. Nenek Sang Woo berusia
70an tahun dengan keadaan bisu dan tuli. Sepanjang film, hanya ekspresi
seorang nenek yang sabar menghadapi si anak bandel itu.
Nah, masalah
berawal ketika Sang Woo dititipkan di rumah neneknya yang tidak ada
listrik, maupun air. Benar-benar dalam kondisi yang sangat sederhana mungkin lebih pada pas-pasan. Rumah beralaskan tanah, berdinding batu dan bambu. (Sangat miris melihatnya)
Berlanjut pada batrai mainan game watch Sang Woo yang habis, mengamuk neneknya untuk minta uang supaya dibelikan batre, tapi nenek gak punya uang. Sang Woo diam-diam mengambil konde diatas kepala nenek dan berniat menukarnya dengan batrai. Akhirnya Sang Woo pergi sampai kesasar saat mencari penjual batre.
Ketika
lapar, neneknya menawarkan makanan dan Sang Woo meminta kentucky (ayan goreng). Sambil menunjukkan gambarnya. Sang nenek, kemudian menjual
simpanan hartanya untuk membeli seekor ayam hidup, kemudian
memasakkannya menjadi ayam rebus (sang nenek salah persepsi, lagian si
nenek gak punya minyak goreng). Namun Sang Woo tidak mau makan,
malah menangis dan mengamuk. #aku meneteskan air mata melihatnya
Sebenarnya di balik ketangguhan dan keusilannya (nakalnya) Sang Woo adalah anak yang baik tetapi dia hanya malu dan sulit untuk mengungkapkan secara langsung. Telihat jelas ketika nenek sakit. Sang Woo merawatnya dengan baik, ala anak kecil. kemudian sedih melihat nenek berjualan di pasar. Nenek menawarkan dagangannya pada beberapa orang dan belum ada yang mau membeli.
Kalo ditanya, saat nonton
The Way Home, apa yang kamu rasakan? Asli campur aduk. ada sedihnya, ada lucunyanya, dan ada marahnya. Termasuk ketika Sang Woo dikejar sapi gila,
jatuh gara-gara menaiki trolleynya di bukit.
Film
berdurasi 85 menit ini bener-bener layak banget ditonton deh, pemilihan
tokoh yang pas dengan karakternya semakin memperkuat pesan yang ingin
disampaikan. Si nenek yang bungkuk, berjalan dengan lambat, cocok dengan
karakternya yang penyabar. Bagi para penikmat film Korea yang lepas
dari cinta-cintaan, The Way Home (Jibeuro) ini layak menjadi alternatif
pilihan. Dijamin bikin kamu merindukan sosok nenek. Apalagi yang kayak aku, yang gak akan pernah bisa merasakan dan menatap raut seorang nenek.
Kajutku (nenek) meninggal ketika aku SMP kelas 1 (usia 11 tahun). Saat itu tidak banyak hal yang bisa aku perbuat karena usiaku dan caraku masih seperti anak kecil, lebih kurang sama halnya dengan Sang Woo nakalnya aku. Tapi usia dan cara berpikir seseorangpun berubah berjalannya waktu. Saat ini usiaku 19 tahun. Berarti kurang lebih 8 tahun setelah kepergian kajut, aku baru menyadari tidak banyak hal yang baik yang bisa aku lakukan sabagai cucu. Tapi aku percaya dan selalu berdoa agar kajut bahagia dan masuk dalam surgaNya.
Buat kalian yang masih bahkan saat ini tinggal bersama nenek, jangan sia-siakan waktumu. Sayangilah dia, karena tanpa dia kaupun tak ada. Kau lahir dari rahim anaknya atau menantunya yang artinya kau adalah bagian dari hidupnya dan sebaliknya dia pun bagian dari hidupmu. Dan bagi kalian yang berniat menonton, silakan di jamin tidak menyesal justru mendapatkan pelajaran baru dari kisah seorang nenek dan cucu. :)
SELAMAT MENONTON
Langganan:
Postingan (Atom)