Translate

Minggu, Januari 27

BEST FRIEND FOREVER


Pagi yang cerah, mentari menyapa dengan senyuman. Kay berjalan menyelusuri perkebunan ubi, wajah yang biasa tanpa rona bahagia. Setiap hari Kay berangkat sekolah sendiri, sedih senang hanya ia dan Tuhan yang mengetahui. Namun berbeda pada saat itu, seorang cowok menyapanya dengan ramah. Mereka satu sekolah dan satu angkatan, hanya di bedakan kelas, kebetulan ruang kelas mereka sampingan sehingga membuat komunikasi mereka semakin lancar.
Sejak kejadian itu, Kay tidak lagi sendiri. Bintang (nama itu cowok) telah menjadi teman dekat Kay. Pulang pergi mereka selalu bersama. Banyak cerita antara mereka, perbedaan menjadi penyatu bagi mereka. Kay tak pernah menyangka akan mendapat teman seperti Bintang.
“Kay, entar kapan-kapan gue kenalin lo sama cewek gue mau kan?” kata Bintang ketika mereka sedang berjalan menuju sekolah.
Sesaat Kay diam tak percaya, semua hal Bintang berani ceritakan padanya, seolah tak ada ruang batas antara mereka, kini Bintang mau mengenalkan diri Kay pada pujaan hatinya. “Boleh Bin! Dengan senang hati” jawab Kay lalu tersenyum.
Mereka terus berjalan, banyak hal yang mereka perbincangkan. Perkebunan dan perkampungan yang mereka lewati seolah menjadi saksi persahabatan mereka.
Terima kasih Tuhan,
Engkau telah kirimkan dia,
Engkau beri aku teman sebaik dia
Dia yang tersenyum tulus padaku,
Dia yang senang berbagi padaku,
Dia yang bersedia menjadi tempat keluhku
Kay tak mampu menahan haru bahagianya, kesepian yang selama ini ia rasa, sirna dengan hadirnya Bintang. Bintang seperti bintang di langit, mewarnai, mempercantik, menemani bulan yang sendiri dalam kelam malamnya.
*****
            Satu bulan lebih berlalu, cerita persahabat terangkai begitu indah oleh mereka. Suka dan duka, tangis dan tawa, panas dan hujan mejadi saksi ketulusan.
            “Kay kalo gue mati, jangan lupain gue ya!” kata Bintang memecahkan keheningan.
            “Kok lo ngomong gitu sih? Gue tu gak akan ngelupain lo sampe geu mati malah. Lo kan temen baik gue.” Jawab Kay santai tanpa mengartikan makna ucapan Bintang.
            “Hhehe (Bintang tetawa kecil), sama Kay gue juga gak akan ngelupain bahkan ninggalin lo” sambung Bintang meyakini Kay.
            “Kalo lo mati, kubur aja deket rumah gue, jadikan gampang buat ketemu lo! (hhehe..)”
            “Dan sebaliknya Kay, kalo lo yang mati, lo dikuburin deket rumah gue”
Mereka kompak tertawa. Cerita seolah tak ada habisnya bagi mereka, sepanjang perjalanan pulang dan pergi sekolah bahkan di telfon ada aja yang mereka obrolin.
            Tiba waktunya semua terasa berbeda bagi Kay. Bintang jarang sekolah dan jarang menelfonnya. Ketika Kay menghubungi lewat telpon pasti berbagai alasan terdengar, entah itu Bintang main bola, keluar, main gak tau kemana, tidur dan sebagainya. Kay merasa kehilangan sosok Bintang yang dulu selalu bersamanya.
Mungkin aku tiada arti bagimu,
Kesempurnaan jauh dariku
Tapi taukah?  begitu berartinya kau dimataku
 Engkau sang penyejuk jiwa,
Bintang yang indah memberi kedamaian dalam suka cita
Kay meneteskan air mata, betapa ingin ia menatap kemabli mata tajam sang Bintang, senyum tawa yang tulus.
            Kay bertemu Bintang di kantin, Kay tersenyum mengisaratkan betapa ia merindukan sosok Bintang. Namun bukan seyum kembali yang ia dapat melainkan tatapan sinis penuh benci. Kay tak mengerti kenapa bisa terjadi semua ini, karena rasa ketidak adilan Kay menarik tangan Bintang.
            “Apa-apaan lo?” tanya Bintang sambil menghempaskan genggaman Kay. “lo gak malu dilihat orang tadi”. Kata Bintang ketika mereka sudah cukup jauh dari keramaian.
            Kay mencoba menguatkan diri untuk barkata meski sebenarnya ia tak mampu. Rasanya ingin menagis sekuat mungkin dihadapan Bintang, agar Bintang sadar betapa ia kehilangan. Kay menarik nafas kemudian, “Kalo gue punya salah gue minta maaf. Gue pengen nanya kenapa lo kayak gini, tapi kayaknya itu sia-sia. Gue lebih memilih untuk mengintroveksi diri dari pada gua harus bertanya alasan. Maaf kalo lo ngersa risih dengan kejadian tadi.” Kay pergi meninggalkan Bintang sendiri.
            Kay kembali menghabiskan waktunya sendiri, ia kembali seperti dulu lagi. Tetap semangat sekalipun ia merasa lemah.
Gue bakal anggep lo Cuma angin yang kebetulan mengahmpiri gue cukup lama, sehingga kesejukan terasa dan kini sudah berlalu.
*****
            Jam instirahat datang, Kay sangaja memilih tidak kekantin dan duduk di bawa pohon sendiri.
“Maafin gue Kay” terdengar suara dari belakang Kay. Kay melihat dan kemudian sosok itu sudah mengabil posisi duduk di sampingnya. Mereka diam sejenak menatap lurus apa yang ada di depan. “gue yang salah Kay, gak seharusnya gue diemin lo kayak gini” sambung Bintang.
Kay hanya diam, seoalah tak ada sesuatu yang didengarnya. Bintang kembali mengajaknya berbicara namun satu katapun tak keluar dari mulut Kay sampai bel masuk berbunyi. “Jaga diri lo baik-baik Kay, gue yakin lo cewek yang hebat dan kuat” kata terakhir Bintang kemudian pergi kembali ke kelas.
 Kata terakhir Bintang terus menggelinang di pikiran Kay “JAGA DIRI LO BAIK-BAIK KAY, GUE YAKIN LO CEWEK YANG HEBAT DAN KUAT”. Dalam hati Kay bertanya apa maksud ucapan Bintang tadi. “Besok gue bakal temui Bintang dan tanya apa maksudnya ngomong gitu? Atau mungkin dia emang gak mau lagi jadi temen deket gue” bisik hati Kay.
Bel istirahat berbunyi, Kay sengaja langsung menuju kelas Bintang. Tapi dilihatnya Bintang gak ada. “Bintang mana ya?” tanya Kay pada salah satu anak kelas Bintang.
“Bintang gak masuk Kay, bukannya kalian temen deket masa gak tau sih? Sekarang Bitang udah jarang masuk sekolah. Katanya sih sakit tapi gak tau sakit apa.” jelasnya
            “Bukannya kemarin dia sehat-sehat aja, dia sempet ngobrol sama gue” kata Kay tak percaya.
            “Kalo soal itu gue juga bingung, tapi kata Febri misalnya besok Bintang masih gak masuk, kita bakal jenguk kerumah”
            “Owh.., thanks ya” jawab Kay kemudian kembali ke kelas. Kay semakin penasaran, pikirannya kacau.
            Kay memutuskan pulang sekolah langsung kerumah Bintang sekalipun ini hal pertama. Kay sama Bintang memang dekat sekali, tapi bukan berarti mereka sering main kerumah satu sama lain.
*****
            Setiba Kay di rumah Bintang, seorang cewek berparas anggun menyapanya dengan ramah. Mungkin ini kakak perempuan Bintang, yang pernah ia ceritakan pada Kay.
            “Temen Bintang ya dek?” tanyanya.
            “Ia kak, Bintangnya ada?” Kay tidak sabar ingin bertemu Bintang.
            “Emang gak tau dek, Bintang masuk rumah sakit semalem. Kalo mau jenguk sekarang bareng aja sama kakak sekalian” tawarnya.
 Tanpa malu-malu, Kay menganggukan kepala.
            Sampai di rumah sakit, tepatnya di ruangan dimana Bintang tebaring lemah Kay melihat mata sang ibu sembab, sepertinya habis menangis. Namun di balik kesedihannya ia menerima salam Kay dengan ramah bahkan menyuruh Kay duduk di sampingnya.
            “Ini Kay bun” kata kakak Bintang ketika Kay duduk. Kay terkejut kok bisa kakaknya Bintang tau padahal ini pertama kalinya bertemu.
            “Bintang pernah cerita soal pacar dan temen deketnya. Kalo pacarnya dulu sering main kerumah, tapi kok Kay gak pernah?” tanya sang Bunda pada Kay.
Kay tersenyum lalu, “Iya tante, maaf ya” jawab Kay. Di mata Kay terselip kesedihan begitu dalam, ingin rasanya ia menangis, namun ini bukan waktu yang tepat justru akan menambah kesdihan keluarga Bintang khususnya bunda. Kay mengetahui penyakit Bintang baru hari ini, kak Vivin memberi tau saat menuju rumah sakit. “Bintang mengidap paru-paru basah sejak kecil” kata kak Vivin ketika Kay bertanya sakit apa Bintang. “sekarang kodisinya semakin parah” sambungnya lagi.
“Kakak nemenin bunda ke apotik dulu ya, gak papa di tinggal bentar?” tanya kak Vivin ketika bunda berjalan ke luar.
“Iya gak papa koq kak” jawab Kay. Langkah itu semakin terdengar jauh. air mata Kay berlahan jatuh hingga tak mampu ia tahan lagi. Kay menangis sekaligus mengajak Bintang berbicara.
“Sadar Bin! Lo gak boleh lemah. Lo pernah janji sama gue lo gak akan ninggalin gue. Gue bukan cewek yang kuat tanpa lo, gue bukan cewek yang hebat tanpa lo. Sadar Bin! Sadar” Kay terus menjerit dan menangis. Tanpa Kay sadari kak Vivin dan bunda sudah berada di ambang pintu. Mungkin bunda dan kak Vivin mendengar tangis keluh Kay. Bunda berjalan ke arah Kay dan merangkulnya dengan penuh kasih.
“Bunda juga merasakan hal yang sama Kay, kita harus sabar” kata bunda kemudian menangis.
*****
Tuhan
Baru aku merasakan indahnya persahabatan
Tulusnya kasih dan sayangnya
Dan kenapa kini engkau biarkan dia terbaring lemah

Tuhan
Karenanya aku bahagia
Karenanya aku mengerti arti persahabatan,
Kesetiaan, kepercayaan

Di tengah lingkaran noda dosaku
Aku lantukan doa tulus permohonan padamu
Sembuhkanlah dia!
Kembalikanlah dia  seprti engkau kemarin memberikannya padaku Tuhan
Air mata Kay seolah tak pernah habis, setiap hari ada waktu dimana air matanya tak mampu ditahan untuk seorang Bintang.
            Tiba-tiba terdengar pengumuman dari ruang informasi sekolah bahwa “BINTANG ANANDA FIRMANSYA MENINGGAL DUNIA”. Bintang telah meninggal, bintang telah pergi untuk selamanya. Kay manangis terus menangis, ia tak peduli apa yang akan orang katakan. Tapi semua tau Kay begitu dekat dengan Bintang sehingga mengerti perasaan Kay.
            “Sabar Kay” kata Anita teman sebangku Kay yang kemudian memeluknya. Kay dapat izin pulang menemui Bintang di temani Anita dan teman satu kelas Bintang. Di sepanjang perjalanan air mata Kay terus mengalir, Anita merasa iba, Kay yang ia tau selama ini tak pernah menangis dan kuat kini tampak lemah.
            Setiba di rumah duka Kay langsung memeluk Riszha yang sekarang mantan pacar Bintang, kemudian kak Vivin dan bunda. Mereka bertiga lah yang paling terlihat terpukul elain Kay. Sore hari setelah Bintang di makamkan, Riszha memberikan sepucuk surat dari Bintang. “Bintang nitip ini buat lo Kay”.
            Kay menerimanya kemudian kembali menangis dipelukan Riszha. “Bintang sayang banget sama lo Kay, bahkan dia lebih milih lo ketimbang gue pacarnya” air mata Riszha kembali menetes. Riszha sempet kecewa pada Bintang saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang hampir setahun, bahkan ia sempet bilang sangat membenci Kay. Karena Kay hubungan mereka hancur, tapi Riszha sadar tak seharusnya ia cemburu dan benci pada Kay. Benar kata Bintang, Kay cewek yang lugu, tulus, baik, perhatian, dan setia kawan.
*****
            Satu minggu telah berlalu sepeninggalan Bintang. Kay masih dalam keadaan duka, rasa kehilangannya begitu dalam mengiris batinnya. Saat pulang sekolah ditengah perjalanan Kay kembali meneteskan Air mata. Ia tak percaya terlalu singkat semua yang ia lalui besama Bintang.
Kenapa lo dateng? kalo pada akhirnya lo bakal ninggalin gue untuk selamanya
Apa masih bisa gue berharap waktu bisa diputar dan lo masih disini bersama gue
Sampai saat ini gue gak bisa terima lo pergi Bin
Gue masih pengen habisin waktu sama lo
Satu bulan kita kenal, lo udah buat warna baru dalam kehidupan gue

Selama ini gue gak punya temen berbagi
Tapi sama lo, gue bisa berbagi dengan mudah
Lo yang selalu ada buat gue
Apakah bisa gue menerima semua ini dengan mudahnya Bin?
Bin kalo lo denger gue, gue pengen lo tau kalo gue juga sayang sama lo
Lo jahat udah ninggalin gue sendiri padahal lo janji gak akan ninggalin gue
Di rumah Kay langsung berlari masuk kamar, Kay membuka laci dan mengambil sepucuk surat yang Riszha kasih di pemakaman Bintang.  Sebelum Kay membukanya, ia mengabil binder yang ada biodata Bintang beserta photonya, di liahatnya mata tajam sang Bintang dengan senyum manisnya yang menggoda kaum wanita. “Lo emang keren Bin” ucap Kay.

Gak yangka gue bisa kenal sama cewek kayak lo Kay
Udah lugu, bawel, keras kepala lagi
Tapi buat gue lo temen terbaik yang pernah gue miliki
Karena lo, gue tau arti persahabatan, kesetiaan, ketulusan tanpa melihat perbedaan.

Kay, gue sayang banget sama lo
Mungkin pada saat lo baca surat ini, Riszha udah ngomong duluan kalo gue lebih milih lo ketimbang dia.
Gue sempet heran, koq  Riszha bisa cemburu sama lo
Hhehehe.. (tau sendiri lo gimana) hhehehe.. peace
Kay kembali menangis .

Kay lo tu jadi orang jangan minder dong!
Lo tu gak kalah  lagi dari mereka
Contohnya cowok seganteng gue mau tu deket ama lo bahkan sayang banget sama lo J
Jadi lo mesti percaya diri

Panjang ni surat gue,
Habis kalo gue ngomong langsung gue takut lo marah
Lo kan suka marah-marah sama gue
Tapi gak papa,  gue tetep sayang koq J

Kay, sekarang gue udah gak bisa lo lihat
Tapi percayalah disini gue masih melihat lo
Gue masih mendoakan lo
Jadi lo harus Semangat
OK!!!
 Inget pesen gue, jaga diri lo baik-baik dan gue yakin lo cewek yang hebat dan kuat.
I Will Always to become your friends forever.
Kisah bersama Bintang telah menjadi kenangan buat Kay, namun selamanya Bintang adalah bintang di hati Kay.
Gue kangen tawa lo
Gue kangen marah lo
Gue kangen ejekkan lo
Gue kangen semua tentang lo Bin
Tapi gue janji, bakal  berusaha ikhlas ngelepas kepergian lo,
Dan gue yakin Tuhan bakal kasih tempat terindah untuk orang sebaik lo
Gue bakal inget terus pesan lo, karena lo MY BEST FRIEND FOREVER.

TAMAT

Senin, Desember 17

ANALISIS CERPEN GURU karya Putu Wijaya

JUDUL CERPEN    :   GURU
KARYA                     :    PUTU WIJAYA

SINOPSIS                  :  
            Anak saya taksu, bercita-cita menjadi seorang guru. Tentu saya dan istri shok mendengarnya, kami tau macam apa masa depan seorang guru. Saya sebagai bapak menasehati Taksu, namun ia tetap pada keinginannya menjadi seorang guru. Akhirnya tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang membawa kunci mobil, kalau saja Taksu mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan. Taksu pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas dan pesan kecil, tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berharga dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya.

TEMA                        :
            Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita atau dasar pengembangan seluruh cerita. Dalam cerpen Guru sendiri temanya adalah Tekat, karena menceritakan keyakinan dan semangat seorang anak terhadap apa yang ia ingingkan (cita-citanya menjadi seorang guru). Contohnya;
            Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secari kertas kecil dan pesan kecil: “Maaf, tolong relakan saya menjadi guru”.
            “Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orng pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja,” ucap promotor ketika taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah perguruan tinggi bergengsi.

ALUR                                    :
            Alur merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
1.      Eksposisi
Eksposisi adalah tahap awal yang berisi penjelasan tentang tempat terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang mendukung cerita.
Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat mengajaknya bicara.

2.      Komplikasi
Komplikasi adalah penyebab awal yang menimbulkan konflik. Konflik, yakni para pelaku sudah diberi gambaran nasib oleh pengarangnya.
“Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?”
Taksu mengangguk. “Betul Pak.”
“Gila masak kamu mau jadi g-u-r-u?”
“Ya”

3.      Klimaks
Klimaks adalah puncak permasalahan atau situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri-sendiri.
"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.
"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!
"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"
"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

4.      Resolusi
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:
"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."

5.      Denonement
Denonement atau penyelesaian. Akhir cerita pendek guru yaitu Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.
"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah perguruan tinggi bergengsi.

TOKOH                     :
1.      Saya    (Bapak)
2.      Taksu   (Anak)
3.      Istri      (Ibu)
PERWATAKAN      :
1.        Saya (Bapak)   : Keras, menilai sesuatu dari satu sisi tanpa melihat sisi yang lain.    (Antagonis)
"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"
"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"
“Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!”
“Aku bunuh kau, kalau kau masi saja mau jadi guru”

2.        Taksu               :  Baik, konsisten, memiliki keyakinan dan tekat yang luar biasa.
(Ptotagonis)
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."
"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak.”
Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil: "Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru".

3.        Istri                  :  
LATAR                      :
1.      Tempat          
- Rumah kost               :   Rumah kost itu sudah kosong.
- Kamar                       :   Pintu kamar tiba-tiba terbuka
- Perguruan Tinggi      : Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah perguruan tinggi bergengsi.
       2.  Waktu
            Waktu tidak dapat ditentukan, karena tidak menujukkan kapan terjadinya seuatu peristiwa dalam cerpen Guru.

1.    Suasana                     
Ø  Menegangkan (marah)
-            “Pikirkan sekali lagi! Bapak kasih waktu satu bulan!”
            Taksu menggeleng. “Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru”
“Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan”
-            "Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.
"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!
"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"
"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

Ø Meyenangkan (bahagia)
"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah perguruan tinggi bergengsi

SUDUT PANDANG            :
            Orang pertama pelaku utama atau orang pertama sebagai pengamat karena mengetahui secara rincih setiap peristiwa yang terjadi dalam cerita dan menggunakan kata Saya.
Contoh:
Anak saya bercita-cita menjadi guru.
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

GAYA BAHASA      :
            Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahasa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu atau cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa.
            Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen guru adalah:
1.      Asosiasi atau Perumpamaan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Contoh; Guru itu hanya sepeda tua.

2.      Hiperbola
Majas hiperbola adalah pernyataan yang berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian. Contoh; Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

AMANAT                  :
1.      Yang menetukan kesuksesan seseorang adalah tekat dan kemauan besar dalam dirinya.
2.      Karakter, sikap, dan minat adalah hidup kita.
3.      Kehidupan tidak dapat di pastikan, karena terkadang sesuatu dapat berubah tanpa harus dipercaya.
4.      Kita yang merencanakan, kita yang menentukan, dan kita sendiri yang menjalani. Orang tua ,keluarga, dan lingkungan adalah pelengkap, penyemangat, tapi bukan penentu.