Translate

Selasa, Desember 4

MUTIARA DI UJUNG BADAI

Putri, seorang gadis yang memiliki keinginan menjadi seorang penulis. Hari demi hari ia lewati dengan penuh semangat sekalipun ia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci di rumah tetangga. Sedangkan adiknya masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Put maafkan ibu yang tidak bisa membiayai sekolahmu sampai perguruan tinggi” kata Ibu ketika mereka selesai menunaikan ibadah sholat isya.
Putri tersenyum, lalu “ndak papa kok bu, Putri akan giat belajar. Supaya Putri bisa ikut beasiswa.”
Putri memang anak yang kuat dan sabar, meski keluarga serba berkecukupan namun ia tetap bisa merasakan sekolah di SMA favorit. Sejak ayahnya meninggal dunia, ia membantu ibunya bekerja di mini market dekat sekolah.
*****
Bel pulang sekolah berbunyi, kali ini Putri tidak langsung ke mini market malainkan pulang ke rumah. Tiba-tiba perasaan Putri tak enak, apalagi ketika ia melihat orang-orang ramai berlari ke arah rumahnya.
Betapa terkejutnya Putri saat meliahat rumah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berteduh kini terbakar. Air mata yang selalu tersimpan rapat di hadapan orang seolah tak malu untuk menetes dengan mudahnya.
Ibu yang tampaknya lemah tak berdaya mendekati anak sulungnya, dengan erat ia mendekap. Semua orang di sekitar ikut terharu dan berbondong-bondong membantu, berharap masih ada sesuatu yang bisa di harapkan.
Hati kecil Putri bertanya pada sang maha perkasa, “Ya Allah, sekuat apakah hamba? Hingga kau beri cobaan seberat ini,” betapa tidak dahulu ia harus kehilangan seorang Ayah dan kini harus kehilangan tempat tinggal keluarga kecilnya.
“Yang sabar Put” seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dari ibu memeluknya perihatin.
“Bibik, paman” saut Putri ketika melihat wajah yang tak asing dihadapannya.
            “Sekarang apa yang Putri harus lakukan bik?” tanya Putri mencoba untuk kuat dan sabar. Putri tak ingin kesedihannya berlarut, karena ia tau ibu dan adiknya masih terpukul dan hanya dia satu-satunya harapan yang harus bangkit memberi kekuatan.
*****
Setelah kejadian kebakaran itu, Putri, adik dan ibunya di kasih tempat tinggal sementara oleh warga setempat. Awalnya mereka akan di bangunkan rumah di tanah mereka sendiri, tempat kejadian kebakaran. Namun paman tidak setuju karena usulnya setelah Putri lulus SMA, Putri, adik dan ibunya akan di bondong ke Bandung untuk tinggal bersama. Jadi kepala Desa memutuskan akan memberikan tempat tinggal sementara.
Waktu terus berjalan, kini Putri sudah lulus SMA dan pindah ke Bandung. Suasanapun baru namun tidak membuat Putri lupa akan kenangan di Desa. Bahkan Putri dan keluarga sering pulang ke Desa untuk berziarah ke makam ayah.
“Put apa kamu tak ada niat untuk melanjutkan kuliah?” tanya paman ketika mereka berkumpul bersama. Putri hanya tersenyum. “Sayang bila kecerdasanmu di sia-siakan begitu saja” sambung paman.
Putri hanya diam mendengar ucapan pamannya. Terlintas di pikiran Putri keinginan yang dulu memotivasinya menjadi seorang penulis namun ia sadar hal yang terpenting saat ini adalah melihat adik dan ibunya bahagia.
            Ibu yang tadi hanya diam tersentak berbicara, “Ia berharap bisa ikut beasiswa”.     
            “Itu bagus, paman bisa membantu kamu!”
            Dengan percaya diri Putri menolak, “Putri bukan tidak ingin lagi melanjutkan kuliah, tapi sekarang Putri mau pokus mengajar santri mengaji paman, bukankan itu juga hal yang mulia”
            “Putri, kuliah tidak menghabiskan waktumu. Kamu bisa membagi jadwal kuliahmu dengan mengajar santri. Paman hanya ingin masa depanmu lebih baik dari ini”
            “Terima kasih paman! Putri tau paman peduli sama Putri tapi sepertinya untuk saat ini biarkan Putri menikmati apa yang sudah Allah kasih. Putri yakin suatu saat nanti Putri bisa meraih cita-cita Putri”
            Tiba-tiba datang seseoarang dari balik pintu mengucap salam. “Assalamualaikum..”
            “Waalaikum salam” jawab semua yang ada di ruangan. Putri membukakann pintu. “Pak ustat” kata Putri ketika melihat seorang laki-laki separoh baya dengan wajah yang amat santun. Paman ikut berdiri dan mempersilakan masuk.
            Tanpa basa-basi pak ustat memberi kabar bahwa karya tulis Putri yang tak sengaja ia kirim terpilih menjadi juara. Betapa terkejutnya Putri karya yang ia sangka hilang ternyata di ada pak Ustat.
            “Maaf pak ustat sebelumnya!,  kok bisa tulisan itu ada di bapak?”
            Pak ustat menceritakan kronoligis ia menemukan tulisan itu. “Begitulah ceritanya, saya pikir kumpulan apa, awalnya ingin saya tanyakan pada Putri tapi karena saya ada urusan mendadak keluar kota jadi tidak sempat. Selama perjalanan dan waktu kosong, saya membaca tulisan itu dan ternyata di akhir cerita ada nama pengarang. Putri khoirunnisa, setau saya itu nama lengkap Putri. Karena karya Putri menurut saya sangat bagus ia saya kirim saja ke Pak Widodo yang bekerja di penerbitan.”
            Kami semua bahagia, khususnya ibu dan paman. Kelihatan sangat mereka kagum akan prestasi Putri. Sepertiga malam Putri bangun menunaikan ibadah sholat tahajut, ia tidak lupa mengucap syukur dan memohan jalan cita-citanya di permuda Allah SWT.
*****
            Waktu yang dinanti-nanti kini telah tiba, setelah menjadi juara dalam lomba karya tulis beberapa bulan yang lalu oleh pak ustat, Novel Putri pun terbit dan beredar di setiap toko buku. Nama Putri menjadi pembicaraan di media cetak dan media masa atas novel yang berjudul Rumahku. Kisah nyata yang di angkat dari kehidupannya sendiri. Tidak hanya itu Putri juga sudah membuat beberapa buku cerita anak.
            “Terima kasih Ya Allah! Atas semua yang telah engkau beri pada hamba. Memang akan ada hikmah di balik sebuah permasalahan. Mungkin tanpa adanya kebakaran itu, Putri tidak akan tinggal di Bandung dan mengenal Pak ustat yang sangat baik pada Putri”. Ucap Putri ketika selasai melaksanakan sholat ashar di masjid. Putri terus bersyukur dan memanjatkan doa. Pak ustat yang tak sengaja mendengar mendekati Putri.
            “Allah sangat menyayangi Putri, itulah alasan kenapa Allah memberi cobaan seberat itu pada Putri. Dan sekarang Putri sadarkan bahwa setiap yang terjadi itu pasti ada balasannya. Sekarang ini adalah hasil dari kesabaran Putri. Ya bisa kita bilang mutiara di ujung badai”
            “Wah bagus sekali pak ustat kata-katanya, mutiara di ujung badai”
            “Jangan bilang Putri mau buat cerita dan judulnya Mutiara di ujung badai”
Putri dan pak ustat pun kompak tertawa.

SELESAI

Mr.D


Aku mengenalmu dari sudut terkecil luasnya cakrawala
Banyak hal yang belum aku tau dan tak perlu tau
Entah apakah aku cinta?
Atau sekedar kagum semata

Aku menyimpanmu dalam diamku
Tak berani aku menatap matamu yang begitu mahal untukku

Kini aku kecewa dengan rasa yang ku punya
Aku membuat semua berubah
Kau yang dulu tampak akrab telah tunduk diam tak ingin bersuara

Jumat, September 14

MALAM

malam membawaku pada dunia sendiriku
menata sebuah kehidupan di luar hiru pikuk yang nyata
aku mejadi yang pertama dalam sebuah cerita

pikiranku terbang jauh tanpa batas
berteman bintang, aku tenggelam dalam dunia malam

malam, sahabatku
meski ragaku tampak lemah,
namun jiwaku tetap semangat berkelana,
sepanjang aku menemukan batas yang mungkin tak akan dapat

Kamis, September 6

SALAH

Sering kali engkau berkata "SALAH'
semua yang aku lakukan selalu salah
jika salah kenapa kau tak tunjukkan kebenaran itu

Kau hanya marah
ketika aku membela diriku
kau hanya tersenyum bila apa yang aku lakukan membuatmu senang
tapi pernah tidak kau berpikir apa yang aku rasa?

Aku sakit
aku sangat kecewa
ketika aku diam,
engkau kembali berkata "inilah kesalahanmu"

Ingin sekali aku bertanya padamu,
"pernah tidak engkau melihat semua usahaku bukan hasil dari perbuatanku??"
sepertinya tidak
padanganmu, aku tetap SALAH

Aku lelah mendengar kata SALAH, SALAH dan SALAH
tapi aku juga tak dapat berkata benar,
karena aku sadari, aku belum cukup baik untuk katakan itu benar

Minggu, September 2

Sang Gadis

Malam ini aku bingung mau nulis apa, tapi aku tak ingin berdiam diri. Jadi aku putuskan untuk tetap menulis, apapun itu aku tak peduli.

Ya.., aku akan menulis cerita kecil yang mukin tak ada makna.

Ini adalah gadis kecil, memiliki mimpi besar di tengah padang rumput ilalang
ia tak dapat melihat apa yg ada di luar sana
ia hanya terus berjalan, berharap ia akan berada di titik akhir padang ilalang

"Tuhan, jika ini tempat terbaik untukku? beri alasan padaku kenapa dan bagaimana aku tetap harus bertahan!" tanya sang gadis ketika ia berada pada ujung lemahnya.
"Tuhan, bila masih ada tempat yang lebih baik dari ini, tolong tujukkan jalannya! izinkanlah aku menempatinya"

Sang gadis mencoba tegar dan kuat, meski sering kali badai menerpanya.
Ia tersenyum, meski hati menangis
Ia tampak senang, meski sakit
Ya, inilah dia yang ingin tampak bahagia.

"Tuhan, apakah semua ini karena kesalahanku?
Bila salah, tunjukkanlah aku kebenaran itu
Betapa inginnya aku keluar dari sini
Tuhan, apakah saat ini aku sedang mengeluh padamu
sedangkan engkau maha segalangya
Menurutku baik belum tentu benar untukmu
dan enkau tau mana yang baik dan benar untukku
setidaknya semua ini atas seizinmu"

Sang gadis terus berbicara sendiri. Ia tak peduli akan sekitarnya, yg ia tau Tuhan ada di dekatnya.


Sabtu, Agustus 25

hari ini (25 agustus 12)

aku suka hari ini
aku suka hari dimana aku dapat tersenyum bersama orang yang tulus
mereka temanku
mereka bagian dari hidupku

kami berbeda
tapi kami tetap bersama
waktu dan jarak mungkin memisahkan
namun semua tak jadi penghalang

Tuhan bila hari ini kami berkumpul dan esok berpisah
pertemukanlah kami dalam kesuksesan
jadikanlah kami saudara yang kau cinta
karena sesungguhnya semua atas keinginanmu



Kamis, Agustus 23

WAKTU

masih adakah waktumu untukku?
walau sesaat
setidaknya beberapa menit atau bahkan detik dari yang kau miliki

berapa lama kita tak berjumpa,
tak saling bicara
apakah kau tau itu?
atau kau tak pernah tau dan tak peduli akan hal itu

aku tak ingin seperti ini
berdiam dalam emosi
bermusuhan dalam hari

berilah sedikit waktumu
agar aku bisa berkata
agar kita tau apa yang kita inginkan

bukan inginku milikimu seperti dulu
bukan aku mau kau selalu temani aku
setidaknya kau beri alasan padaku,
mengapa jarak antara kita terlalu jauh hingga pertemananpun tak dapat aku tembus

sampai tiba saatnya semua memang benar-benar berbeda
ketahuilah engkau bukan angin, yang melintas sesaat di hadapanku
kau bukan badai yang menghancurkanku di tengah hujan
kaupun bukan pisau yang mungkin bisa menusukku

bagiku, kau adalah udara,yang hadir di setiap nafasku
kau adalah pelangi yang mewarnai sebagian dari hidupku
dan kaupun adalah bintang di hatiku

kita cukup dewasa untuk memaknai arti dari kehidupan
aku berharap di persimpangan jalan hidup kita, kita dapat bertemu dan saling menyapa
bukan karena cinta yang pernah ada
atau mungkin persahabatan yang pernah melintas di hari kita
melainkan persaudaraan yang Allah inginkan dari setiap hambanya



Minggu, Agustus 19

TERLANJUR SAYANG


Aku tak tau apakah ini cinta atau bukan, namun satu tahun sudah aku menyukainya. Tak bisa dipungkiri satu tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang aku terima darinya, terlebih rasa kecewa. Sering kali aku berdoa pada Tuhan untuk lupakan dia, tapi percuma rasa itu tetap ada.
Aku mengenal dia dari teman satu kelasku, Dia anak Fakultas pertanian. Awalnya aku hanya melihat dia berbicara dengan temanku, dari situlah aku mulai munyakainya (mungkin cinta pada pandangan pertama). Gayanya yang cuek dan cool buat aku semakin mengagumi sosoknya.
Suatu hari dia ngomong sama aku, “Kay, cariin aku cewek!” (bisa dibanyangkan perasaan aku pada saat itu), aku mencoba tegar dan kuat meskipun rasanya benar-benar kecewa. Aku kenalin dia sama temen deketku. Sebenernya temenku tidak setuju dengan keinginanku, “Gila lo, kalo suka ngapain nyodorin gue”. Pikiran gue hanya satu buat dia seneng walaupun bukan sama aku. Alasan itu di terima oleh temen deketku.
Aku pikir setelah mengenalkan dia sama temen deket, bakal bikin kami deket paling tidak sebagai sahabat atau hanya sekedar temen baik. Nyatanya tidak, semakin hari dia semakin jauh. Aku tidak bisa memaksakan dia untuk dekat denganku jadi aku hanya bisa diam dalam luka. Kemudian aku sempet balikan ama mantan, bukan CLBK seperti yang orang bialang, melainkan aku hanya ingin melupakan dia lewat mantanku. Semua harapan sirna, aku masih saja memikirkan dia sampai akhirnya aku putus.
Rasa sayang mungkin tidak ada batasnya, tapi bagaimana jika rasa sayang kita itu dibalas dengan kekecewaan? Jawabannya jelas berbeda-beda, tergantung orang yang merasakannya. Aku sempet mencari tau tentang dia lewat temen deketku, “Gimana? Lancar gak hubungan kalian?” tanyaku penasaran.
“Gimana mau lancar, dia aja gak pernah hubungi gue” Dalam hati aku bingung, dia minta kenalin cewek tapi kok enggak pernah menghubungi. “mungkin Cuma alasan dia aja minta kenalin cewek sama lo” sambung temen deketku lagi.
 Jujur aku sempet GR (gede rasa) mendengar itu. Tapi aku kembali sadar, kalo emang dia ada filling sama aku dia enggak mungkin  jauh kayak gini.
*****
Sejak kejadian temenku bilang dia enggak pernah menghubungi, aku belajar untuk melupakan dia meskipun aku masih menyukai bahkan menyayanginya. Tapi usahaku kembali gagal, sepertinya rasa rindu membunuh niat melupakan dia. Aku sms dia tapi pakai Send All, biar kesannya enggak khusus (walaupun sebenernya emang khusus buat dia, hhehe..). Kali ini aku sangat bahagia, soalnya dia bales dengan gaya perhatian.
Aku curhat sama sahabatku tentang dia, bukannya didukung justru dimarahin dengan alasan bodoh menyukai orang yang jelas-jelas enggak peduli. Memang setiap aku curhat sama orang yang bisa dipercaya, rata-rata pada nyuruh lupain dia, “Lo pasti dapet yang lebih baik darinya” selalu itu akhir yang akan aku dengar. Padahal jelas mereka tau, aku sudah berapa kali mencoba untuk melupakan dan mehilangkan rasa  tentangnya, tapi apa hasilnya? Aku selalu gagal.
Seandainya mereka sadar  aku juga tidak menginginkan hal ini. Kalo aku bisa memilih, aku lebih memilih menyukain dan menyayangi orang yang bisa menerima aku apa adanya. Tapi inilah kenyataan yang harus aku terima kerena aku sudah terlanjur sayang.

Minggu, Juli 29

AWAL CERITA GAUL



Awalnya gue cuma suka baca tapi gak suka beli (gak modal banget ya? Hhaha). Tetangga gue ne yang suka beli sampe bosen denger gue teriak  “Ayukkkk..minjem tabloid barunya donk!” (biasa aja kali). 
Suatu hari di kelas gue pada heboh baca zodiak (ya tau sendiri masih jaman SMA ), karena gue enggak mau ketinggalan, ya gue langsung nimbrung aja. Pas gue lihat dan gue telaah (jiah telaah, sok ilmiah banget Ya),  ternyata sih gaul ini bikin edisi tentang Handika Pratama. Nah gimana gue gak tergila-gila, secara 4 tahun gue ngefans sama doi (pengagum rahasia ceritanya). Gue langsung  nanya,  “Punyo  siapo ini?” .
Kompak mereka jawab, “Punyo Kasih Yen”. Terus temen deket gue nyambung, “Jangan ngomong nak minta”  (tau banget kalo gue mau minta, hhehe).
“Nah itu tau” jawab gue dengan nada santai.
Dinda salah satu temen deket gue bilang, “Cobo tanyo samo Kasih langsung Yen! Kali be di kasih”.
“Iyo Din, tapi kantin dulu be! Laper na” jawab gue sambil berjalan keluar kelas. Ternyata eh ternyata, gue bertemu dengan Kasih, langsung minta lah dari pada manjangi tali kelambu. “Kasih minta poster Handika Pratama ye?”
Di jawab Kasih lah, “Lajulah Yen!”
Asli seneng nant anak mudo. Tanpa ragu gue masuk kelas Kasih, di dalam ruangan ternyata gaulnya masih di kerumunin. Tapi dengan percaya diri gue mendekat ke arah mereka dan bilang “kance poster Handikanyo boleh di gunting?” 
“Buat apo?” tanya salah satu di antara mereka.
Gue jawab aja, gue ngefans banget dan beberapa temen lain juga sudah tau sehingga mereka hanya tersenyum. Tapi gue gak nyangka banget salah satu di antara mereka, sebut saja Mr. X (gak enak di sebutin, entar dia malu lagi. Hhehe) mengeluarkan statement yang bikin gue sakit hati banget waktu itu (jujur pada saat itu gue gak bisa terima).
“Maaf ye, bukan dak tebeli” jawab gue kemudian keluar. Di luar gue enggak diem aja, gue langsung cerita kesemua temen deket. “pokoknyo aku dak terimo dio ngomong mak itu, bukanyo aku dak tebeli. Rewangi aku beli hari ini, dak tau cak mano caronyo aku dapet gaul itu.” Nah pas banget siang ini kami batam (belajar tambahan). Jadi gue nyuruh temen-temen cowok gue cari tempat jualan tabloid dan gue sama temen cewek gue pulang kerumah dulu.
Kembali ke sekolah,  berharap temen-temen cowok gue dapet itu  tabloid. Linda yang juga membantu turut sms mbaknya di kampus. Kali aja di kampus tabloidnya Masih ada. Enggak lama kemudian Reza dan Agung nyamperin gue.
 “Maaf nian Yen, kami lah nyari sampe palimo tabloid gaulnyo kate, abes”  kata Agung.
“Besok baru ado, itu pun edisi yang baru bukan yang tadi” sambung Reza.
Ya Allah, asli kecewa banget gue. Apalagi pas tau mbaknya Linda juga memberi jawabanya yang sama. Apa boleh buat kenyataan mau, tidak mau harus diterima.
“Beli be yang edisi besok setidaknyo kau punyo Yen, gek aku netep samo ayuk” sambung Linda memberi keyakinan.
Tanpa mikir panjang gue setuju dengan pendapat Linda.
*****
Kejadian tadi belum bisa gue lupain. Gue lihat Bokap (ceileh gaya gue maen bokap segala biasa juga bapak, hahaha..) lagi nyatai, jadi gue langsung aja cerita sekalian gue minta duit buat bayar tabloid sama mbaknya Linda.
“Pa, minta duit,,” kata  gue sebelum cerita.
“Buat apo?” tanya bokap gue. (secara dateng-dateng langsung minta duit, hhehehe)
“Buat beli tabloid, (gue ceritain deh semuanya dari awal sampe akhir)”. Kalo dilihat dari ekspresi bokap, ada rasa mau tertawa lihat gue ngadu sama ada rasa kesel sama Mr. X (secara orang tua mana yang mau anaknya direndahin apalagi hanya karena tabloid).
“Berapo belinyo?” tanya bokap sambil buka dompet.
“Rp. 6000 pa” jawab gue. (harga dulu, kalo sekarang mah udah Rp.10.000)
“Na!” bokap ngasih duit Rp. 20.000.
“Galonyo?” tanya gue.
“Iyo”
Gue langsung masuk kamar.
*****
Hari selanjutnya...!
Sore kemarin Linda nganterin tabloid gaul edisi terbaru kerumah,  jadi hari ini dengan gaya santai tapi pasti (apolah cobo..) gue bawa itu tabloid ke sekolah.  Mau tau apa yang terjadi? Asli mamen tabloid kita di kerumunin (secara zodiak terbaru) dan hasilnya, ada salah satu anak kelas Kasih yang ikut nimbrung nanya, “Punyo siapo ini?”
Dijawablah oleh temen deket, “Punyo Yeni.  Waya-waya tabloid  dak mungkin pulo dak tebeli”. Ingetlah temen-temen kejadian tabloin tempo hari .
“Owh.., gara-gara itu jadi kau beli Yen?” sambung yang lain.
“Iyo lah pulo. Secara masih biso kito beli” (maklum anak mudo gampang tersinggung).
Di dalem tabloid itu, ada poster ST 12. Bunda (panggilan salah satu temen sekelas gue) suka banget sama Charly. “Yen ontok aku be ye posternyo?” kata bunda dengan gaya manisnya.
APA YANG TERJADI SETELAH ITU?.............................
Hemmmmm...., kasih tau enggak ya??? Hhehehe..,
Karena gue ini orangnya baik hati, tidak sombong, rajin menabung, hapal pancasila tapi enggak hapal undang-undang (hhahaha)bilang  “Embeklah Bun, ontok apo aku jugo”  (kalo nak inget kejadian Handika Pratama , asli kecewa banget  mungkin lemak jugo bales biar tau). Tapi tidak, bunda kan seneng sedangken kita enggak jadi buat apa di pertahankan selembaran gambar yang tidak seberapa nilainya  dengan harga seorang temen (sok bijak banget ya gue? Hhehe.., tapi jangan salah tampang selengek ini bisa juga loh jadi temen curhat yang bijak dan dewasa. NARSIS! Hhagagaga.. (nunggu orang muji, lama. Jadi muji sendiri aja, hhaha).
Sejak itu (SMA kelas 2) hingga saat ini (kuliah semester 4) gue beli tabloid Gaul. Di tambah sekarang lagi demam korea otomatis kitanya up date donk. Dan satu hal lagi, bukannya sombong (tapi emang beneran sombong, hhehe) enggak jarang temen gue yang lihat, langsung  minta poster.  Buat gue itu bukan hal yang berlibihan tapi itu wajar bagi seorang penggemar tergila-gila sama poster tersebut ( Apalagi kalo gambarnya cute and Cool abis. Hhaha). SELESAI –

Sabtu, Februari 18

BUKAN BINTANG REINA

Reina kembali meyukai seseorang, ntah apakah itu cinta atau bukan yang pasti bayangan cowo itu tak pernah pergi. Awalnya Reina memang tertarik dengan wajahnya yang tampan namun karena di sekitar Reina masih banyak dan masih banyak hal yang lebih peting untuk dipikirkan akhirnya ketertarikan Reina pada tu cowo tak dihiraukan. Tapi sekarang ketertarikannya pada tu cowo lebih dari tampannya wajah. Kenapa Reina bisa lebih tertarik bahkan sangat menyukai? Itu karena Reina tau siapa sebenarnya cowo itu di balik wajah tampannya.

Rasa itu bermula karena keinginan Reina untuk masuk dalam komunitas seni di kampus, niat mau mendalami pengetahuan tentang sastra. Salah satu teman sekelas Reina mengatakan bahwa dia (cowo yang disukai Reina) adalah anak komunitas seni. Mulanya Reina tidak terlalu happy, iya karena emang ketertarikan Reina tidak gimana-gimana juga (masih tahap biasa). Berjalannya waktu Reina semakin mengenal dia, mengenal dia bukan karena lolos dalam seleksi komunitas seni melainkan kerena kesempatan Reina untuk masuk komunitas seni gatot (gagal total). Sedih, kecewa sempat dirasakannya tapi itu tidak bertahan lama − Reina yakin masih banyak jalan untuk mengetahui lebih dalam sastra tanpa harus masuk dalam komunitas seni kampus.

Suatu hari Reina bertanya dengan dia, sebut saja dia Bintang. Bintang menjawabnya dengan jawaban yang bener-bener bikin Reina tambah kagum.

Reina sempet mengeluh pada Bintang karena tidak bisa masuk dalam komunitas seni kerena terlambat daftar. “Huft… padahal gua pengen banget masuk seni” kata Reina dengan raut muka kecewa. Kemudian Reina berpikir sepertinya dunia jurnalis juga menarik − Reina mencoba menanyakan kembali pada Bintang apakah masih bisa mendaftar. “Kalo Pers masih buka gak ya?”

“Kurang tau juga tu” jawab Bintang sedikit menambah kekecewaan Reina. “tapi entar aku cari tau” sambungnya lagi dan membuat Reina sedikit berseri (setidaknya Bintang mau mencari tau untuknya).

“Ok, thanks” balas Reina senang.

*****

Liburan semester telah tiba, Reina dan temen-temen satu jurusan akan mengadakan perjalanan ke Lombok. Reina satu bus sama Bintang (gak terlalu seneng awalnya), di dalam bus Reina bercanda termasuk bersama Bintang (akhirnya seneng banget… hhehe). Bintang nanya nama Reina sama temen yang lain (hhehe..udah pernah ngobrol tapi gak tau nama, aneh banget kan…hhaha). Setelah tau dia memanggil Reina, “Masih bisa kalau mau ikut pers semesrter 4” katanya tanpa basa basi (seneng banget Reina pada saat itu − gak yangka tu cowo masih inget niat Reina yang pengen ikut Pers).

“Beneran ni?” Tanya Reina seneng.

“Yups.., setiap semester genap pers buka pendaftaran” jawabnya lagi.

“Ikut ya!” ajak Reina

“Gak bisa, gua udah bergabung di seni. Jadi gak boleh” (sedihnya Reina, tapi mau gimana lagi..).

“Owh.., ok lah” lanjut Reina sedikit kecewa.

Kejadian di bus membuat Reina semakin mengagumi sosok Bintang. Cowo tampan, pinter, gampang bergaul, gak sombong, pokoknya asyik dan nyaman berada dideketnya. Mata Reina seolah ingin selalu melihatnya, hati ingin selalu merasa dekat dengannya itulah yang terjadi pada Reina saat liburan bersama Bintang. Tapi ada sesuatu yang mengganjil di hati gadis periang ini. Iya Reina sadar siapa dia dan siapa Bintang. Bintang adalah salah satu cowo idola, yang menyukainya banyak bahkan temen deket Reina pun suka banget sama Bintang. Saat mengingat kembali pengakuan Vita sebelum liburan, hati Reina bener-bener sakit tapi dihadapan sahabatnya itu, Reina tetap tenang menyimpan rapat perasaan yang ada bahkan dia sempet bilang bahwa Bintang itu biasa saja.

Makin lama Reina sadar bahwa Vita, temen deketnya sangat menyukai Bintang dan kalau dia tau Reina juga suka − Reina tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Jujur Reina takut Vita benci, takut dia akan bilang kalo Reina seorang pengkhianat. Tapi Reina juga gak bisa bohongi perasaannya − dia sangat menyukai Bintang. “Ya Tuhan Bantu hamba” bisik Reina dalam hati.

Beban di hati Reina semakin bertambah setelah ia melihat terlalu jauh berbeda dirinya dengan Bintang, apalagi sahabatnya juga suka dan sekarang Reina dan Bintang sedieman. Reina memang ingin menjauh tapi bukan dengan cara sedieman. Reina tak tau apakah dia yang salah atau memang Bintang yang terlalu cuek. Saat mereka bertemu, Bintang tidak menyapanya − jangankan menyapa tersenyum pun tidak. “Haruskan gua yang menyapa lu duluan?” bisik Reina dalam hati saat matanya bertemu mata Bintang. “Apakah tidak bisa semua kembali seperti biasa?” lanjutnya lagi. Reina bener-bener bingung.

Keesokan harinya Reina makan siang bersama Anjar, salah satu temen sekelasnya. Anjar curhat tentang cewenya, dia bilang kalau cewenya masih sayang sama mantanya dan ternyata mantanya adalah Bintang (betapa terkejutnya Reina pada saat itu).

“Emang cewe lu siapa sekarang?” Tanya Reina penasaran. Maklum selama ini Reina tidak telalu menegtahui banyak megenai Bintang apalagi tentang siapa yang pernah menjadi pacar atau gebetannya.

“Putri, anak I3” jawab Anjar.

Reina semakin terkejut karena sepengetahuan dirinya, Putri I3 adalah temen SMAnya dulu. “Ya Tuhan kenapa semua harus terjadi? Kenapa harus dia?” Reina kembali berbisik dalam hati. Kali ini dia bener-bener kecewa banget. (gimana gak kecewa, temen Reina juga suka Bintang, terus mantan cowo yang masih disayang cewe Anjar adalah Bintang, dan yang lebih parahnya lagi cewe itu adalah Putri temen SMA Reina). Semua begitu rumit, membuat Reina semakin percaya bahwa Bintang yang ini tidak bercahaya untuknya.

Liburan kali ini memberi banyak pelajaran buat Reina, khususnya dalam hal perasaan. “Gua harus bisa menjaga perasaan, agar tidak gampang terjerumus dalam rasa itu sehingga tidak merasakan kecewa seperti ini” kata Reina berbicara sendiri di depan kaca lemari di kamarnya. “Atau setiap benih itu akan tumbuh, gua harus bersiap-siap untuk layu paling tidak saat semua terjadi tidak terlalu berasa sakit” lanjutnya lagi

Reina mengambil deary di atas meja, kembali ia mencoret kertas putih deary dengan tinta hitam yang bertulis isi hatinya.

Bintang yang aku banggakan saat ini tak bersinar untukku

Perbedaan terlalu jauh

Siapa yang pantas mundur?

Jawabanya adalah aku

Aku lah kasalahan di tengah kebenaran itu

Dan aku sadari itu untuk pergi menjauh

Biarlah Bintang itu tetap bersinar meski aku tak dapat merasakannya

Biarlah semua tersimpan rapat sampai nanti semua terpecah bela

Hingga musna tersusun rapi rasa yang pantas ada

Yang pasti bukan dia, Bintang sekarang.

Air mata menetes begitu saja saat semua di tumpahkan dalam helaian kata. Berharap semua akan berubah, tangis ini menjadi tawa bahagia hari esok untuk Reina. Bintang yang bercahaya kali ini bukan Bintang Reina.

TAMAT

Senin, Januari 30

Karla

"Malam telah menjemputku, semakin merindukanmu" bisik hati Karla. Malam ini Karla akan berkelana dalam dunia mayanya. Karla mengenal seorang sahabat yang baik untuknya, yang mampu mengobati kerinduaan akan sosok sang pujaan hati lewat facebook sejak 2 tahun yang lalu.
   "Hy mickey..." sapa Karla pada sahabat dumaynya itu lewat obrolan facebook.
   "Hy juga my princes. hhehe"  jawab si Mr. X alias Mickey (panggilan sayang Karla).
   "Sedang apa dirimu disana? kini aku kembali ingin berbagi cerita" tanya Karla tanpa basa-basi.
   "sedang menanti dirimu disana yang ingin berbagi cerita. Hhe" jawab Mr. X dengan penuh perhatian.

   Meskipun Karla hanya mengenal Mr. X lewat jejaring sosial, tetapi rasa percaya dan nyaman begitu ia rasakan. Terlebih usia Mr. X cukup lebih tua darinya, sekitar 3 tahun di atas usianya. Mr. X juga memiliki adik seusia Karla yang membuatnya bisa memaklumi karakter Karla. Mr. X suka juga berbagi cerita soal pacarnya pada Karla sekalipun ia sadar Karla sering tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Namun dengan sabarnya ia mampu membuat Karla memahami apa ia ceritakan.
   "Kakak, Karla bingung ni sama perasaan Karla. huft" keluh Karla manja pada Mr. X.
   "Emang ada apa my princes? apa masih dengan cerita yang lama?"
   "Tentu tidak. Buat aku yang lalu sudah berlalu. Aku ingin hidup sesuai dengan apa yang dihadapanku tanpa memikirkan itu kembali"
   "Bukankah kau pernah mengatakan betapa sulitnya kau melupakan masa lalumu yang tidak terselesaikan itu?"
   "Itu benar, tetapi haruskah aku terus hidup dalam bayangan masa lalu?"
   "Akhirnya kau sadari itu. Kini aku percaya kau bisa menjadi orang yang lebih dewasa dari apa yang aku bayangkan. Kau bisa mencari kehidupan yang jauh lebih dari masa lalumu. Asalkan kau mau berusaha"
   "Tapi aku takut, takut jatuh ke lubang yang sama."
   "Apa kau menyukai seseorang?" tanya Mr. X penasaran.
   "Mungkin..."
   "Kenapa mungkin? kalau suka ya bilang suka. Katanya kakak sendiri, terus kenapa mesti malu untuk mengakuinya. Hhehe"
   "Hhaha. bukan malu tapi masih ragu"
   "Ragu, why?"
   "Ya, siapa tau cuma pelarian saja."
   "Hei anak kecil,  jangan berpikir seperti itu, jangan ada pikiran menjadikan seseorang sebagai tempat pelarian. Nanti kamu sendiri yang bakal sakit hati. BTW emang siapa sih? temen kamu ya?"
   "Bukan, dia temennya temen aku. Baru kenal tapi..."
   "Suka pada pandangan pertama ya? ayo ngaku! hhe" goda Mr. X.
   "Gak juga tu. Hhe."

   Obrolan Karla sama si Mr. X terus berjalan. Sampai pada akhirnya Mr. X mengatakan "Andaikan kita tak berjauhan, ingin sekali aku menggenggam erat tanganmu dan berbisik ditelingamu aku akan menjadi kakakmu yang selalu disampingmu kapan pun kau butuh. Takku biarkan seorang pun menyakiti ketulusanmu. Kau adalah salah satu bintang yang bercahaya diantara bintang yangku punya.Semangatlah adikku kau akan menemukan kebahagiaan yang lebih dari yang kau inginkan. Tetaplah menjadi kepribadianmu yang seperti ini karena aku yakin diantara mereka akan mengetahui cahaya yang tersimpan dari kpribadianmu. U are my princes. Hhehe"

   Membaca semua itu, Karla meneteskan air mata. Sedih, senang, kagum bercampur di hatinya. "Ya Allah benarkah semua itu?" bisik hati Karla haru. Sungguh tak disangka ia bisa mengenal sosok sahabat, teman sekaligus kakak yang mampu menggetarkan jiwanya memberi semangat. Perjalanannya di dunia maya malam ini menghasilkan kata-kata yang mampu membuatnya tetap tersenyum dan kuat.

  "Benar-benar mengobati keriduanku akan sosok pujaan hatiku. Hhhehe" lagi-lagi Karla berbisik dan senyum sendiri.

  Inilah kenyataan yang harus diterima barani menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup sekalipun berat. Semua ada jalan keluar kalau saja berusaha. Karla yang tadinya takut ngejalani semuanya, karena bingung kepada siapa ia akan bersandar selain pada Allah SWT, kini ia menemukan seorang sahabat melalui jejaring sosial yang sudah 2 tahun ia kenal. Kepada Mr. X ia berbagi segala hal (eh gak semuanya). Namun tak bisa dipungkiri dibalik sebuah rahasia masih ada rahasia.

SELESAI

bintang malam: Cerpen Gadis di bawah pohon

bintang malam: Cerpen Gadis di bawah pohon: Suasana yang panas, menemani seorang gadis yang asyik bermain basket. Sepertinya ia tak peduli dengan panasnya terik matahari yang menye...