cahayaku tak seindah cahaya bintang lainnya namun aku berharap cahaya kecilku mampu menerangi kegelapan yang kau rasa.
Translate
Selasa, Desember 4
MUTIARA DI UJUNG BADAI
Mr.D
Jumat, September 14
MALAM
menata sebuah kehidupan di luar hiru pikuk yang nyata
aku mejadi yang pertama dalam sebuah cerita
pikiranku terbang jauh tanpa batas
berteman bintang, aku tenggelam dalam dunia malam
malam, sahabatku
meski ragaku tampak lemah,
namun jiwaku tetap semangat berkelana,
sepanjang aku menemukan batas yang mungkin tak akan dapat
Kamis, September 6
SALAH
semua yang aku lakukan selalu salah
jika salah kenapa kau tak tunjukkan kebenaran itu
Kau hanya marah
ketika aku membela diriku
kau hanya tersenyum bila apa yang aku lakukan membuatmu senang
tapi pernah tidak kau berpikir apa yang aku rasa?
Aku sakit
aku sangat kecewa
ketika aku diam,
engkau kembali berkata "inilah kesalahanmu"
Ingin sekali aku bertanya padamu,
"pernah tidak engkau melihat semua usahaku bukan hasil dari perbuatanku??"
sepertinya tidak
padanganmu, aku tetap SALAH
Aku lelah mendengar kata SALAH, SALAH dan SALAH
tapi aku juga tak dapat berkata benar,
karena aku sadari, aku belum cukup baik untuk katakan itu benar
Minggu, September 2
Sang Gadis
Ya.., aku akan menulis cerita kecil yang mukin tak ada makna.
Ini adalah gadis kecil, memiliki mimpi besar di tengah padang rumput ilalang
ia tak dapat melihat apa yg ada di luar sana
ia hanya terus berjalan, berharap ia akan berada di titik akhir padang ilalang
"Tuhan, jika ini tempat terbaik untukku? beri alasan padaku kenapa dan bagaimana aku tetap harus bertahan!" tanya sang gadis ketika ia berada pada ujung lemahnya.
"Tuhan, bila masih ada tempat yang lebih baik dari ini, tolong tujukkan jalannya! izinkanlah aku menempatinya"
Sang gadis mencoba tegar dan kuat, meski sering kali badai menerpanya.
Ia tersenyum, meski hati menangis
Ia tampak senang, meski sakit
Ya, inilah dia yang ingin tampak bahagia.
"Tuhan, apakah semua ini karena kesalahanku?
Bila salah, tunjukkanlah aku kebenaran itu
Betapa inginnya aku keluar dari sini
Tuhan, apakah saat ini aku sedang mengeluh padamu
sedangkan engkau maha segalangya
Menurutku baik belum tentu benar untukmu
dan enkau tau mana yang baik dan benar untukku
setidaknya semua ini atas seizinmu"
Sang gadis terus berbicara sendiri. Ia tak peduli akan sekitarnya, yg ia tau Tuhan ada di dekatnya.
Sabtu, Agustus 25
hari ini (25 agustus 12)
aku suka hari dimana aku dapat tersenyum bersama orang yang tulus
mereka temanku
mereka bagian dari hidupku
kami berbeda
tapi kami tetap bersama
waktu dan jarak mungkin memisahkan
namun semua tak jadi penghalang
Tuhan bila hari ini kami berkumpul dan esok berpisah
pertemukanlah kami dalam kesuksesan
jadikanlah kami saudara yang kau cinta
karena sesungguhnya semua atas keinginanmu
Kamis, Agustus 23
WAKTU
walau sesaat
setidaknya beberapa menit atau bahkan detik dari yang kau miliki
berapa lama kita tak berjumpa,
tak saling bicara
apakah kau tau itu?
atau kau tak pernah tau dan tak peduli akan hal itu
aku tak ingin seperti ini
berdiam dalam emosi
bermusuhan dalam hari
berilah sedikit waktumu
agar aku bisa berkata
agar kita tau apa yang kita inginkan
bukan inginku milikimu seperti dulu
bukan aku mau kau selalu temani aku
setidaknya kau beri alasan padaku,
mengapa jarak antara kita terlalu jauh hingga pertemananpun tak dapat aku tembus
sampai tiba saatnya semua memang benar-benar berbeda
ketahuilah engkau bukan angin, yang melintas sesaat di hadapanku
kau bukan badai yang menghancurkanku di tengah hujan
kaupun bukan pisau yang mungkin bisa menusukku
bagiku, kau adalah udara,yang hadir di setiap nafasku
kau adalah pelangi yang mewarnai sebagian dari hidupku
dan kaupun adalah bintang di hatiku
kita cukup dewasa untuk memaknai arti dari kehidupan
aku berharap di persimpangan jalan hidup kita, kita dapat bertemu dan saling menyapa
bukan karena cinta yang pernah ada
atau mungkin persahabatan yang pernah melintas di hari kita
melainkan persaudaraan yang Allah inginkan dari setiap hambanya
Minggu, Agustus 19
TERLANJUR SAYANG
Minggu, Juli 29
AWAL CERITA GAUL
Sabtu, Februari 18
BUKAN BINTANG REINA
Reina kembali meyukai seseorang, ntah apakah itu cinta atau bukan yang pasti bayangan cowo itu tak pernah pergi. Awalnya Reina memang tertarik dengan wajahnya yang tampan namun karena di sekitar Reina masih banyak dan masih banyak hal yang lebih peting untuk dipikirkan akhirnya ketertarikan Reina pada tu cowo tak dihiraukan. Tapi sekarang ketertarikannya pada tu cowo lebih dari tampannya wajah. Kenapa Reina bisa lebih tertarik bahkan sangat menyukai? Itu karena Reina tau siapa sebenarnya cowo itu di balik wajah tampannya.
Rasa itu bermula karena keinginan Reina untuk masuk dalam komunitas seni di kampus, niat mau mendalami pengetahuan tentang sastra. Salah satu teman sekelas Reina mengatakan bahwa dia (cowo yang disukai Reina) adalah anak komunitas seni. Mulanya Reina tidak terlalu happy, iya karena emang ketertarikan Reina tidak gimana-gimana juga (masih tahap biasa). Berjalannya waktu Reina semakin mengenal dia, mengenal dia bukan karena lolos dalam seleksi komunitas seni melainkan kerena kesempatan Reina untuk masuk komunitas seni gatot (gagal total). Sedih, kecewa sempat dirasakannya tapi itu tidak bertahan lama − Reina yakin masih banyak jalan untuk mengetahui lebih dalam sastra tanpa harus masuk dalam komunitas seni kampus.
Suatu hari Reina bertanya dengan dia, sebut saja dia Bintang. Bintang menjawabnya dengan jawaban yang bener-bener bikin Reina tambah kagum.
Reina sempet mengeluh pada Bintang karena tidak bisa masuk dalam komunitas seni kerena terlambat daftar. “Huft… padahal gua pengen banget masuk seni” kata Reina dengan raut muka kecewa. Kemudian Reina berpikir sepertinya dunia jurnalis juga menarik − Reina mencoba menanyakan kembali pada Bintang apakah masih bisa mendaftar. “Kalo Pers masih buka gak ya?”
“Kurang tau juga tu” jawab Bintang sedikit menambah kekecewaan Reina. “tapi entar aku cari tau” sambungnya lagi dan membuat Reina sedikit berseri (setidaknya Bintang mau mencari tau untuknya).
“Ok, thanks” balas Reina senang.
*****
Liburan semester telah tiba, Reina dan temen-temen satu jurusan akan mengadakan perjalanan ke Lombok. Reina satu bus sama Bintang (gak terlalu seneng awalnya), di dalam bus Reina bercanda termasuk bersama Bintang (akhirnya seneng banget… hhehe). Bintang nanya nama Reina sama temen yang lain (hhehe..udah pernah ngobrol tapi gak tau nama, aneh banget kan…hhaha). Setelah tau dia memanggil Reina, “Masih bisa kalau mau ikut pers semesrter 4” katanya tanpa basa basi (seneng banget Reina pada saat itu − gak yangka tu cowo masih inget niat Reina yang pengen ikut Pers).
“Beneran ni?” Tanya Reina seneng.
“Yups.., setiap semester genap pers buka pendaftaran” jawabnya lagi.
“Ikut ya!” ajak Reina
“Gak bisa, gua udah bergabung di seni. Jadi gak boleh” (sedihnya Reina, tapi mau gimana lagi..).
“Owh.., ok lah” lanjut Reina sedikit kecewa.
Kejadian di bus membuat Reina semakin mengagumi sosok Bintang. Cowo tampan, pinter, gampang bergaul, gak sombong, pokoknya asyik dan nyaman berada dideketnya. Mata Reina seolah ingin selalu melihatnya, hati ingin selalu merasa dekat dengannya itulah yang terjadi pada Reina saat liburan bersama Bintang. Tapi ada sesuatu yang mengganjil di hati gadis periang ini. Iya Reina sadar siapa dia dan siapa Bintang. Bintang adalah salah satu cowo idola, yang menyukainya banyak bahkan temen deket Reina pun suka banget sama Bintang. Saat mengingat kembali pengakuan Vita sebelum liburan, hati Reina bener-bener sakit tapi dihadapan sahabatnya itu, Reina tetap tenang menyimpan rapat perasaan yang ada bahkan dia sempet bilang bahwa Bintang itu biasa saja.
Makin lama Reina sadar bahwa Vita, temen deketnya sangat menyukai Bintang dan kalau dia tau Reina juga suka − Reina tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Jujur Reina takut Vita benci, takut dia akan bilang kalo Reina seorang pengkhianat. Tapi Reina juga gak bisa bohongi perasaannya − dia sangat menyukai Bintang. “Ya Tuhan Bantu hamba” bisik Reina dalam hati.
Beban di hati Reina semakin bertambah setelah ia melihat terlalu jauh berbeda dirinya dengan Bintang, apalagi sahabatnya juga suka dan sekarang Reina dan Bintang sedieman. Reina memang ingin menjauh tapi bukan dengan cara sedieman. Reina tak tau apakah dia yang salah atau memang Bintang yang terlalu cuek. Saat mereka bertemu, Bintang tidak menyapanya − jangankan menyapa tersenyum pun tidak. “Haruskan gua yang menyapa lu duluan?” bisik Reina dalam hati saat matanya bertemu mata Bintang. “Apakah tidak bisa semua kembali seperti biasa?” lanjutnya lagi. Reina bener-bener bingung.
Keesokan harinya Reina makan siang bersama Anjar, salah satu temen sekelasnya. Anjar curhat tentang cewenya, dia bilang kalau cewenya masih sayang sama mantanya dan ternyata mantanya adalah Bintang (betapa terkejutnya Reina pada saat itu).
“Emang cewe lu siapa sekarang?” Tanya Reina penasaran. Maklum selama ini Reina tidak telalu menegtahui banyak megenai Bintang apalagi tentang siapa yang pernah menjadi pacar atau gebetannya.
“Putri, anak I3” jawab Anjar.
Reina semakin terkejut karena sepengetahuan dirinya, Putri I3 adalah temen SMAnya dulu. “Ya Tuhan kenapa semua harus terjadi? Kenapa harus dia?” Reina kembali berbisik dalam hati. Kali ini dia bener-bener kecewa banget. (gimana gak kecewa, temen Reina juga suka Bintang, terus mantan cowo yang masih disayang cewe Anjar adalah Bintang, dan yang lebih parahnya lagi cewe itu adalah Putri temen SMA Reina). Semua begitu rumit, membuat Reina semakin percaya bahwa Bintang yang ini tidak bercahaya untuknya.
Liburan kali ini memberi banyak pelajaran buat Reina, khususnya dalam hal perasaan. “Gua harus bisa menjaga perasaan, agar tidak gampang terjerumus dalam rasa itu sehingga tidak merasakan kecewa seperti ini” kata Reina berbicara sendiri di depan kaca lemari di kamarnya. “Atau setiap benih itu akan tumbuh, gua harus bersiap-siap untuk layu paling tidak saat semua terjadi tidak terlalu berasa sakit” lanjutnya lagi
Reina mengambil deary di atas meja, kembali ia mencoret kertas putih deary dengan tinta hitam yang bertulis isi hatinya.
Bintang yang aku banggakan saat ini tak bersinar untukku
Perbedaan terlalu jauh
Siapa yang pantas mundur?
Jawabanya adalah aku
Aku lah kasalahan di tengah kebenaran itu
Dan aku sadari itu untuk pergi menjauh
Biarlah Bintang itu tetap bersinar meski aku tak dapat merasakannya
Biarlah semua tersimpan rapat sampai nanti semua terpecah bela
Hingga musna tersusun rapi rasa yang pantas ada
Yang pasti bukan dia, Bintang sekarang.
Air mata menetes begitu saja saat semua di tumpahkan dalam helaian kata. Berharap semua akan berubah, tangis ini menjadi tawa bahagia hari esok untuk Reina. Bintang yang bercahaya kali ini bukan Bintang Reina.
TAMAT
Senin, Januari 30
Karla
"Hy mickey..." sapa Karla pada sahabat dumaynya itu lewat obrolan facebook.
"Hy juga my princes. hhehe" jawab si Mr. X alias Mickey (panggilan sayang Karla).
"Sedang apa dirimu disana? kini aku kembali ingin berbagi cerita" tanya Karla tanpa basa-basi.
"sedang menanti dirimu disana yang ingin berbagi cerita. Hhe" jawab Mr. X dengan penuh perhatian.
Meskipun Karla hanya mengenal Mr. X lewat jejaring sosial, tetapi rasa percaya dan nyaman begitu ia rasakan. Terlebih usia Mr. X cukup lebih tua darinya, sekitar 3 tahun di atas usianya. Mr. X juga memiliki adik seusia Karla yang membuatnya bisa memaklumi karakter Karla. Mr. X suka juga berbagi cerita soal pacarnya pada Karla sekalipun ia sadar Karla sering tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Namun dengan sabarnya ia mampu membuat Karla memahami apa ia ceritakan.
"Kakak, Karla bingung ni sama perasaan Karla. huft" keluh Karla manja pada Mr. X.
"Emang ada apa my princes? apa masih dengan cerita yang lama?"
"Tentu tidak. Buat aku yang lalu sudah berlalu. Aku ingin hidup sesuai dengan apa yang dihadapanku tanpa memikirkan itu kembali"
"Bukankah kau pernah mengatakan betapa sulitnya kau melupakan masa lalumu yang tidak terselesaikan itu?"
"Itu benar, tetapi haruskah aku terus hidup dalam bayangan masa lalu?"
"Akhirnya kau sadari itu. Kini aku percaya kau bisa menjadi orang yang lebih dewasa dari apa yang aku bayangkan. Kau bisa mencari kehidupan yang jauh lebih dari masa lalumu. Asalkan kau mau berusaha"
"Tapi aku takut, takut jatuh ke lubang yang sama."
"Apa kau menyukai seseorang?" tanya Mr. X penasaran.
"Mungkin..."
"Kenapa mungkin? kalau suka ya bilang suka. Katanya kakak sendiri, terus kenapa mesti malu untuk mengakuinya. Hhehe"
"Hhaha. bukan malu tapi masih ragu"
"Ragu, why?"
"Ya, siapa tau cuma pelarian saja."
"Hei anak kecil, jangan berpikir seperti itu, jangan ada pikiran menjadikan seseorang sebagai tempat pelarian. Nanti kamu sendiri yang bakal sakit hati. BTW emang siapa sih? temen kamu ya?"
"Bukan, dia temennya temen aku. Baru kenal tapi..."
"Suka pada pandangan pertama ya? ayo ngaku! hhe" goda Mr. X.
"Gak juga tu. Hhe."
Obrolan Karla sama si Mr. X terus berjalan. Sampai pada akhirnya Mr. X mengatakan "Andaikan kita tak berjauhan, ingin sekali aku menggenggam erat tanganmu dan berbisik ditelingamu aku akan menjadi kakakmu yang selalu disampingmu kapan pun kau butuh. Takku biarkan seorang pun menyakiti ketulusanmu. Kau adalah salah satu bintang yang bercahaya diantara bintang yangku punya.Semangatlah adikku kau akan menemukan kebahagiaan yang lebih dari yang kau inginkan. Tetaplah menjadi kepribadianmu yang seperti ini karena aku yakin diantara mereka akan mengetahui cahaya yang tersimpan dari kpribadianmu. U are my princes. Hhehe"
Membaca semua itu, Karla meneteskan air mata. Sedih, senang, kagum bercampur di hatinya. "Ya Allah benarkah semua itu?" bisik hati Karla haru. Sungguh tak disangka ia bisa mengenal sosok sahabat, teman sekaligus kakak yang mampu menggetarkan jiwanya memberi semangat. Perjalanannya di dunia maya malam ini menghasilkan kata-kata yang mampu membuatnya tetap tersenyum dan kuat.
"Benar-benar mengobati keriduanku akan sosok pujaan hatiku. Hhhehe" lagi-lagi Karla berbisik dan senyum sendiri.
Inilah kenyataan yang harus diterima barani menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup sekalipun berat. Semua ada jalan keluar kalau saja berusaha. Karla yang tadinya takut ngejalani semuanya, karena bingung kepada siapa ia akan bersandar selain pada Allah SWT, kini ia menemukan seorang sahabat melalui jejaring sosial yang sudah 2 tahun ia kenal. Kepada Mr. X ia berbagi segala hal (eh gak semuanya). Namun tak bisa dipungkiri dibalik sebuah rahasia masih ada rahasia.
SELESAI